Bapak, Aku dan Perjalanan
"Bapak, Aku dan Perjalanan"
- Weliliora
Sebuah tulisan kecil dari si bungsu untuk seluruh ayah hebat di Dunia.
Hai, kenalin aku Weliliora.
Ini kisah tentang Bapak, Aku dan Perjalananku sebagai anak bungsu.
Aku lahir dan tumbuh di keluarga yang cukup sederhana. Bapakku bekerja di salah satu Perusahaan Logistik terkemuka pada masanya. Ibuku?, dia seorang sivitas akademika di salah satu Universitas Negeri yang cukup terkenal di kota ku. Dengan dunia pekerjaan mereka yang berbeda, Tuhan justru mempertemukan dan menyatukan mereka dalam satu tujuan yang sama: membesarkan anak-anak dengan segala mimpi dan harapannya. Dan salah satu anak itu adalah aku. weliliora, si anak bungsu dengan sejuta angan di kepalanya.
Sebagai anak bungsu, aku tumbuh menjadi anak yang cukup mandiri sejak kecil. Bukan karena keinginanku, tapi memang keadaan perlahan membentukku demikian. Bapak dan ibuku, sama-sama sibuk bekerja. Bapakku lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan dan pekerjaan, sementara ibuku sebagai tenaga pendidik sangat jarang berada di rumah karena urusan penelitiannya. Lalu kedua abangku? tentu mereka punya dunia dan kesibukannya masing-masing. Mungkin itu juga yang membuat aku dan bapakku tidak pernah benar-benar dekat. Kami memang hidup di satu atap yang sama, namun jarang memiliki waktu bersama. Karena, masa kecilku justru banyak dihabiskan di rumah nenek. Ditambah lagi ibuku meninggal dunia ketika aku umur 9 tahun.
Saat itu rasanya aku membenci hidupku, aku benci duniaku, aku bahkan benci diriku sendiri. Dunia yang sejak awal terasa sunyi bagiku, berubah menjadi hampa dan tak kenal arah. Anak bungsu dengan segala angannya ini dipaksa dewasa oleh keadaan. Setelah kepergian ibu, rumah yang sudah sepi sejak awal jauh lebih sepi. Bapak melanjutkan hidup dengan tetap bekerja pergi pagi pulang malam. Dan aku tentu tetap melanjutkan hidupku yang semakin entah kemana arahnya. Hari-hari terus berjalan tanpa banyak berubah beriringan dengan aku yang semakin nyaman mandiri. Sampai akhirnya bapak bertemu dan dipersatukan dengan wanita hebat yang sekarang kupanggil bunda.
Untuk pertama kali hidupku terasa berwarna, padahal awalnya aku mengira bunda hadir bak sinetron televisi yang berperan antagonis. Namun sebaliknya, bunda justru hadir membawa warna dihidupku. Menajdi tempatku bercerita hingga berkeluh kesah.
Seiring berjalannya waktu, aku menjalani kehidupan seperti anak lainnya. Aku bersekolah hingga lulus sesuai dengan harapan bunda. Hingga aku mampu melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas ternama di kota ku. Bahkan aku menyelasaikan gelar sarjana ku lebih cepat dari yang seharusnya, 3 tahun 9 bulan. Setelah semua itu selesai, fase hidup yang sesungguhnya telah dimulai.
Bapak berharap aku melanjutkan jalan yang lebih pasti dengan menjadi pegawai negeri. Aku mencobanya, mengikuti berbagai proses dan tes. Namun hidup berkata lain, aku gagal. Di sisi lain, aku juga masih memegang mimpiku yang ingin kuliah lagi di luar negeri. Namun keadaan membuatku berfikir lebih realistis, terutama soal biaya dan kondisi keluarga. Dan benar saja, untuk kesekian kalinya aku benar-benar tak tau harus melangkah kemana.
Akhirnya aku memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kecil. Iya benar, tidak besar. Bukan seperti bayangan banyak orang tentang sukses atau bekerja di perusahaan besar setelah lulus. Tapi cukup untuk membuatku tetap bergerak. Awalnya aku merasa hidupku hanya berjalan di tempat. Aku melihat teman-temanku dan orang disekelilingku melangkah jauh, sementara aku masih sibuk menata arah hidupku akan bagaimana.
Namun perlahan, aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku bisa sekolah dengan baik sampai di titik ini bukan tanpa alasan. Semua itu tak lepas dari sosok yang sejak dulu menghabiskan sebagian besar hidupnya bekerja tanpa lelah, demi memastikan anaknya punya kesempatan melangkah lebih jauh. Hidup sebagai anak karyawan logistik mengajarkan ku banyak hal, salahsatunya tentang perjalanan. Tentang bagaimana seseorang harus tetap menjalani hidup meski lelah bahkan tujuan belum jelas.
Aku tumbuh di masa ketika dunia terus berubah dengan sangat cepat. Belanja tidak lagi harus pergi ke toko, jarak tidak lagi menjadi alasan, dan banyak orang kini menggantungkan perjalanannya pada jasa pengiriman. Di tengah berbagai hiruk perubahan, JNE hadir menjadi salah satu bagian penting yang membantu masyarakat tetap saling terhubung.
Bagiku, JNE bukan hanya tentang ekspedisi logistik yang sampai tepat waktu. Lebih dari itu, JNE seperti menjadi simbol bahwa setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Bahwa di balik ribuan paket yang dikirim setiap harinya, ada banyak cerita yang ikut berjalan membersamai cerita tentang keluarga, pekerjaan, perjuangan, bahkan harapan sederhana seseorang.
Dan tanpa kusadari, hidup bapak sejak dulu ternyata juga tidak jauh berbeda. Setiap pagi bapak pergi bekerja, menempuh perjalanan panjang, menghadapi lelah yang mungkin tidak pernah benar-benar ia ceritakan. Semua itu dilakukan agar anak-anaknya tetap bisa melanjutkan perjalanan hidupnya masing-masing. Hingga akhirnya aku sampai pada titik ini dan sadar, mungkin aku tidak benar-benar berjalan di tempat seperti yang selama ini kupikirkan.
Sama hal nya dengan JNE yang terus bergerak menghubungkan banyak perjalanan di tengah perubahan zaman, aku pun sedang menjalani proses perjalananku sendiri. Mungkin jalannya tidak selalu cepat, tidak selalu mudah, dan tidak selalu sesuai harapan. Tetapi selama aku masih mau bergerak, aku percaya setiap perjalanan akan menemukan arahnya sendiri.Dan mungkin, tanpa benar-benar kusadari, bapak sudah mengajarkan arti perjalanan itu sejak lama.
Sampai jumpa di perjalanan menarik lainnya,
- Weliliora, Si bungsu anak pegawai ekspedisi.
#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita
Sebuah tulisan kecil dari si bungsu untuk seluruh ayah hebat di Dunia.
Hai, kenalin aku Weliliora.
Ini kisah tentang Bapak, Aku dan Perjalananku sebagai anak bungsu.
Aku lahir dan tumbuh di keluarga yang cukup sederhana. Bapakku bekerja di salah satu Perusahaan Logistik terkemuka pada masanya. Ibuku?, dia seorang sivitas akademika di salah satu Universitas Negeri yang cukup terkenal di kota ku. Dengan dunia pekerjaan mereka yang berbeda, Tuhan justru mempertemukan dan menyatukan mereka dalam satu tujuan yang sama: membesarkan anak-anak dengan segala mimpi dan harapannya. Dan salah satu anak itu adalah aku. weliliora, si anak bungsu dengan sejuta angan di kepalanya.
Sebagai anak bungsu, aku tumbuh menjadi anak yang cukup mandiri sejak kecil. Bukan karena keinginanku, tapi memang keadaan perlahan membentukku demikian. Bapak dan ibuku, sama-sama sibuk bekerja. Bapakku lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan dan pekerjaan, sementara ibuku sebagai tenaga pendidik sangat jarang berada di rumah karena urusan penelitiannya. Lalu kedua abangku? tentu mereka punya dunia dan kesibukannya masing-masing. Mungkin itu juga yang membuat aku dan bapakku tidak pernah benar-benar dekat. Kami memang hidup di satu atap yang sama, namun jarang memiliki waktu bersama. Karena, masa kecilku justru banyak dihabiskan di rumah nenek. Ditambah lagi ibuku meninggal dunia ketika aku umur 9 tahun.
Saat itu rasanya aku membenci hidupku, aku benci duniaku, aku bahkan benci diriku sendiri. Dunia yang sejak awal terasa sunyi bagiku, berubah menjadi hampa dan tak kenal arah. Anak bungsu dengan segala angannya ini dipaksa dewasa oleh keadaan. Setelah kepergian ibu, rumah yang sudah sepi sejak awal jauh lebih sepi. Bapak melanjutkan hidup dengan tetap bekerja pergi pagi pulang malam. Dan aku tentu tetap melanjutkan hidupku yang semakin entah kemana arahnya. Hari-hari terus berjalan tanpa banyak berubah beriringan dengan aku yang semakin nyaman mandiri. Sampai akhirnya bapak bertemu dan dipersatukan dengan wanita hebat yang sekarang kupanggil bunda.
Untuk pertama kali hidupku terasa berwarna, padahal awalnya aku mengira bunda hadir bak sinetron televisi yang berperan antagonis. Namun sebaliknya, bunda justru hadir membawa warna dihidupku. Menajdi tempatku bercerita hingga berkeluh kesah.
Seiring berjalannya waktu, aku menjalani kehidupan seperti anak lainnya. Aku bersekolah hingga lulus sesuai dengan harapan bunda. Hingga aku mampu melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas ternama di kota ku. Bahkan aku menyelasaikan gelar sarjana ku lebih cepat dari yang seharusnya, 3 tahun 9 bulan. Setelah semua itu selesai, fase hidup yang sesungguhnya telah dimulai.
Bapak berharap aku melanjutkan jalan yang lebih pasti dengan menjadi pegawai negeri. Aku mencobanya, mengikuti berbagai proses dan tes. Namun hidup berkata lain, aku gagal. Di sisi lain, aku juga masih memegang mimpiku yang ingin kuliah lagi di luar negeri. Namun keadaan membuatku berfikir lebih realistis, terutama soal biaya dan kondisi keluarga. Dan benar saja, untuk kesekian kalinya aku benar-benar tak tau harus melangkah kemana.
Akhirnya aku memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kecil. Iya benar, tidak besar. Bukan seperti bayangan banyak orang tentang sukses atau bekerja di perusahaan besar setelah lulus. Tapi cukup untuk membuatku tetap bergerak. Awalnya aku merasa hidupku hanya berjalan di tempat. Aku melihat teman-temanku dan orang disekelilingku melangkah jauh, sementara aku masih sibuk menata arah hidupku akan bagaimana.
Namun perlahan, aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku bisa sekolah dengan baik sampai di titik ini bukan tanpa alasan. Semua itu tak lepas dari sosok yang sejak dulu menghabiskan sebagian besar hidupnya bekerja tanpa lelah, demi memastikan anaknya punya kesempatan melangkah lebih jauh. Hidup sebagai anak karyawan logistik mengajarkan ku banyak hal, salahsatunya tentang perjalanan. Tentang bagaimana seseorang harus tetap menjalani hidup meski lelah bahkan tujuan belum jelas.
Aku tumbuh di masa ketika dunia terus berubah dengan sangat cepat. Belanja tidak lagi harus pergi ke toko, jarak tidak lagi menjadi alasan, dan banyak orang kini menggantungkan perjalanannya pada jasa pengiriman. Di tengah berbagai hiruk perubahan, JNE hadir menjadi salah satu bagian penting yang membantu masyarakat tetap saling terhubung. Bagiku, JNE bukan hanya tentang ekspedisi logistik yang sampai tepat waktu. Lebih dari itu, JNE seperti menjadi simbol bahwa setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Bahwa di balik ribuan paket yang dikirim setiap harinya, ada banyak cerita yang ikut berjalan membersamai cerita tentang keluarga, pekerjaan, perjuangan, bahkan harapan sederhana seseorang.
Dan tanpa kusadari, hidup bapak sejak dulu ternyata juga tidak jauh berbeda. Setiap pagi bapak pergi bekerja, menempuh perjalanan panjang, menghadapi lelah yang mungkin tidak pernah benar-benar ia ceritakan. Semua itu dilakukan agar anak-anaknya tetap bisa melanjutkan perjalanan hidupnya masing-masing. Hingga akhirnya aku sampai pada titik ini dan sadar, mungkin aku tidak benar-benar berjalan di tempat seperti yang selama ini kupikirkan.
Sama hal nya dengan JNE yang terus bergerak menghubungkan banyak perjalanan di tengah perubahan zaman, aku pun sedang menjalani proses perjalananku sendiri. Mungkin jalannya tidak selalu cepat, tidak selalu mudah, dan tidak selalu sesuai harapan. Tetapi selama aku masih mau bergerak, aku percaya setiap perjalanan akan menemukan arahnya sendiri.
Dan mungkin, tanpa benar-benar kusadari, bapak sudah mengajarkan arti perjalanan itu sejak lama. Sampai jumpa di perjalanan menarik lainnya, - Weliliora, Si bungsu anak pegawai ekspedisi. #JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita
kamu keren bangetš„¹
BalasHapuskeep it up, will!!!!
BalasHapuskerennn pollll
BalasHapus