Air mata dan Toga
Aku anak bungsu.
Anak yang sering dianggap paling manja, paling santai, dan paling banyak dibantu.
Tapi tidak banyak yang tahu kalau aku juga sering takut.
Takut gagal. Takut mengecewakan keluarga.
Takut tidak bisa jadi apa-apa.
Sampai akhirnya hari itu datang.
Hari ketika aku berdiri memakai toga, membawa namaku sendiri,
dan berhasil menjadi satu-satunya sarjana di keluarga kecilku.
Jujur, wisuda itu bukan cuma soal kelulusan bagiku.
Ada banyak air mata, perjuangan, dan doa yang ikut sampai ke hari itu.
Aku bangga pada diriku sendiri karena bisa bertahan sejauh ini.
Tapi lebih dari itu, aku bangga karena akhirnya bisa mewujudkan keinginan almarhum ibuku.
Dulu, beliau selalu ingin melihat anaknya menjadi sarjana.
Dan meskipun sekarang beliau sudah tidak ada di dunia ini,
keinginannya tetap hidup di dalam langkahku.
Di hari wisuda itu, aku terus memikirkan satu hal:
“Bu, aku sudah sampai.”
Aku tahu gelar ini bukan hanya milikku.
Ada bapak yang bekerja keras setiap hari,
Diam-diam menahan lelah demi anak bungsunya ini bisa sekolah sampai selesai.
Mungkin bapak tidak pernah banyak bicara soal capeknya hidup,
tapi aku tahu semua yang bapak lakukan penuh perjuangan.
Dan ada bunda…
yang mungkin bukan ibu kandungku,
tapi tetap menyayangiku, mendukungku,
dan ada di setiap proses hidupku sampai hari ini.
Terima kasih karena sudah menerima dan menyayangi aku dengan tulus.
Hari wisudaku bukan tentang siapa yang paling hebat.
Tapi tentang bagaimana seorang anak bungsu dari keluarga sederhana akhirnya berhasil membawa pulang kebanggaan untuk keluarganya.
Untuk bapak, terima kasih karena tidak pernah menyerah demi masa depanku.
Untuk bunda, terima kasih karena sudah menjadi rumah yang hangat untukku.
Dan untuk ibu di surga…
Aku resmi menjadi sarjana, Bu.
Aku sudah menepati janji itu.
Komentar
Posting Komentar