Unfinished Scene
If my life were a movie, I don’t think people could decide what genre it belongs to.
Kadang semuanya dimulai seperti
film keluarga sederhana.
Tentang rumah yang tidak mewah, orang-orang yang tetap bertahan
meski hidup tidak selalu mudah, dan seorang anak bungsu yang tumbuh
dengan terlalu banyak isi kepala.
Lalu entah kenapa, di tengah
cerita, genrenya berubah begitu saja.
Ada scene yang terasa seperti
comedy.
Bukan karena hidupku benar-benar
lucu,
tapi karena semesta kadang punya cara aneh untuk membuat semuanya berantakan di
waktu yang salah.
Hal-hal kecil yang harusnya biasa saja malah jadi plot twist dadakan.
Tapi ada juga bagian ketika
semuanya berubah sunyi.
Scene malam hari. Lampu kamar yang
masih menyala.
Pikiran yang tidak bisa diajak diam.
Main character-nya mulai mempertanyakan banyak hal,
masa depan, mimpi, tujuan hidup, bahkan dirinya sendiri.
Dan di bagian itu, filmnya berubah
jadi psychological thriller.
Lucunya lagi, aku merasa sutradara
hidupku suka mengganti scene terlalu cepat.
Baru saja aku mulai menikmati satu bagian, tiba-tiba ceritanya berubah lagi.
Kadang aku bahkan belum sempat pulih dari satu episode,
tapi hidup sudah memaksaku masuk ke episode berikutnya.
Main character-nya juga tidak
se-keren tokoh film pada umumnya.
Dia sering hilang arah.
Sering pura-pura kuat.
Kadang terlalu banyak mikir.
Kadang ingin menyerah tapi
besoknya bangun lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Dan mungkin kalau ada penonton
yang melihat hidupku dari luar,
mereka juga bakal bingung sebenarnya ini cerita tentang apa.
Karena tidak ada alur yang
benar-benar rapi.
Tidak ada ending episode yang
selalu tenang.
Tidak ada soundtrack kemenangan di
setiap perjuangan.
Yang ada cuma seseorang yang terus
berjalan
meski sering tidak tahu akan
sampai ke mana.
Tapi mungkin justru itu inti dari
hidup.
Tidak semua cerita datang dengan
genre yang jelas.
Beberapa hidup memang ditulis
dengan campuran drama,
comedy, chaos, kehilangan, harapan, dan sedikit kegilaan agar tokohnya tetap
bertahan.
Dan sejauh ini, meski ceritanya
berantakan, aku rasa film ini masih layak dilanjutkan.
So what's next? Let's see...
Komentar
Posting Komentar